Mungkin kita harus berterimakasih pada Anne Hathaway. Lho
kenapa? Anne Hathway tidak terlibat sama sekali dalam proyek film A Quiet
Place (2018) tidak jadi aktor, penulis naskah, atau bahkan kru film
sekalipun. Yup, tidak salah, karena berkat Anne Hathway, John Krasinski
dan Emily Blunt dicomblangi lantas kemudian menikah (cerita pribadi ini
dibenarkan dalam artikel di IMDb). Dari sanalah kedua pasangan yang
dipertemukan itu menciptakan film yang benar-benar brilliant. Film horor yang fantastik mencengangkan.
John Kransinksi dibantu Bryan Woods dan Scott Beck menulis
naskah film. Ia juga yang memproduseri, menyutradarai, dan mengambil peran
sebagai aktor. Bersama istri (sebenarnya) Emily Blunt atau biasa disapa Em.
Mereka beradu akting menjadi sepasang suami dan istri, yang memiliki 3 orang
anak hidup di dunia paska kekacauan invansi makhluk buta yang aneh dan peka
pada secuil suara sekecil apapun itu. Makhluk itu akan memburu dan menerkammu
kalau kau membuat suara yang gaduh. Ya setidaknya begitulah plot garis besar film yang tayang
perdana awal April 2018 di Indonesia. Sesuai jargonnya "If they hear you, they hunt you". Jika mereka mendengarmu,
mereka akan memburumu. Film yang merusak saraf, alias bikin
"jantungan" Literally,
seperti yang diungkapkan kritikus film Brian Tallerico.
Awal cerita film, diterangkan bahwa mereka di hari ke-89. Tidak dijelaskan kenapa sampai dunia menjadi seperti itu. Latar waktu sekitar tahun 2020-an. Tempat? Sepertinya Amerika. Sekeluarga Ayah, Ibu (seperti yang tadi disebutkan diperankan oleh Krasinksi dan Em) dan 3 orang Anak, yang satu anak perempuan penyandang tuna rungu (diperankan Millicent Simmons), dan 2 anak lelaki lainnya (diperankan Noah Jupe dan Cade Woodward). Mereka berlima mengendap-ngendap di minimarket mengambil kebutuhannya, sambil berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Kita sebagai penonton dipastikan penuh dengan tanda tanya dikepala, ada apa? Kenapa mereka diam-diam tidak mengeluarkan suara? Kenapa ada pengumuman banyak orang hilang di mading pinggir kota?. Pertanyaan-pertanyaan itu semua terjawab tepat ketika salah satu dari ketiga anak itu "apes" disambar oleh makhluk yang belum jelas bentuknya namun sangat cepat menerkam anak dari keluarga itu. Kecerobohannya hanya satu, anak itu membunyikan mainan pesawat yang diambilnya dari toko, padahal sudah dilarang oleh ayahnya. Ya, namanya juga anak kecil. Sampai disitu kita berkonklusi, betapa bahayanya bersuara. Disanalah penonton diajak sangat berhati-hati pada suara, termasuk bersuara dalam bioskop, karena itu tentu akan mengganggu penonton lain, tentu saja, hahaha.
Awal cerita film, diterangkan bahwa mereka di hari ke-89. Tidak dijelaskan kenapa sampai dunia menjadi seperti itu. Latar waktu sekitar tahun 2020-an. Tempat? Sepertinya Amerika. Sekeluarga Ayah, Ibu (seperti yang tadi disebutkan diperankan oleh Krasinksi dan Em) dan 3 orang Anak, yang satu anak perempuan penyandang tuna rungu (diperankan Millicent Simmons), dan 2 anak lelaki lainnya (diperankan Noah Jupe dan Cade Woodward). Mereka berlima mengendap-ngendap di minimarket mengambil kebutuhannya, sambil berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Kita sebagai penonton dipastikan penuh dengan tanda tanya dikepala, ada apa? Kenapa mereka diam-diam tidak mengeluarkan suara? Kenapa ada pengumuman banyak orang hilang di mading pinggir kota?. Pertanyaan-pertanyaan itu semua terjawab tepat ketika salah satu dari ketiga anak itu "apes" disambar oleh makhluk yang belum jelas bentuknya namun sangat cepat menerkam anak dari keluarga itu. Kecerobohannya hanya satu, anak itu membunyikan mainan pesawat yang diambilnya dari toko, padahal sudah dilarang oleh ayahnya. Ya, namanya juga anak kecil. Sampai disitu kita berkonklusi, betapa bahayanya bersuara. Disanalah penonton diajak sangat berhati-hati pada suara, termasuk bersuara dalam bioskop, karena itu tentu akan mengganggu penonton lain, tentu saja, hahaha.
Menonton film ini mengingatkan kita pada sejenis film seperti
Alien (1986), Jurassic Park (1993) dan yang terbaru Don't Breathe (2016).
Ketiga contoh film yang memiliki pola dan corak yang sama. Sama-sama memberikan
suasana agar penonton diajak menahan nafas merasakan sensasi "jangan
bersuara sekecil apapun". Jelas film ini memberikan ketidaknyamanan
penonton yang penakut. Tak heran dipertengahan film di bioskop, banyak penonton
yang keluar gak tahan merasakan kengeriannya, apalagi bagi mereka yang
"jantungan". Disitulah kecerdasan Krasinski, ia masih paham betul,
pola plot cerita seperti itu masih digemari penonton kebanyakan. Ditengah
banyaknya film horor makhluk astral yang lebih mengandalkan bentuk hantu se-creepy mungkin dan mengagetkan karena
muncul dadakan seperti tahu bulat.
Bagian scene yang cerdas lagi diantaranya, ketika ibu (Em),
tak sengaja menyangkutkan karung berisi baju ke paku di anak tangga ke
basement, membuat pakunya menganga, terekspos tajam, siap diinjak siapapun.
Disini kita benar-benar dibuat khawatir, sambil mengumpat "Duh, awas
hati-hati, mampus deh yang nginjak. Aduh teriak-teriak deh yang nginjek" somethin’ like that. Dan benar saja di
adegan lain, paku itu memakan korban. Disana penonton dibuat tegang setengah
mati. Adegan yang istilah tepatnya mungkin "Menyimpan ketegangan buat
nanti". Dengan merangkul komposer film dan konduktor Marco Beltrami,
jelas film ini "bersuara" benar-benar bikin gila. Selaras dengan
pengambilan gambar oleh sinematogafer asal Denmark, Charlotte Bruus Christensen
dengan baik.
Overall. Film ini
sangat layak ditonton bersama teman, pacar, dan keluarga bagi yang merasa suka
memacu adrenalin. Tapi tentu harus ingat, film ini untuk yang berumur remaja
keatas. IMDb memberi rating tinggi (8,3 yang terakhir) bisa meningkat lagi
mungkin, dan sepertinya berpotensi menggeser posisi film-film di 200 film
terbaik versi IMDb.
Nilai
: Great

Bagus
BalasHapus