Selasa, 01 Mei 2018

Django Unchained (2012) - Big Trouble Maker


        

     Tak ada film yang lebih rasis dibanding, Django Unchained (2012). Begitulah kesan yang terbangun walaupun itu hanya sedikit penggambaran. Karena memang begitulah yang ingin diangkat oleh Quentin Tarantino, selain adegan-adegan aksi majestic yang super-awesome dari tokoh utama, Dr. King Schultz (Christoph Waltz) dan Django (Jamie Foxx). Film ini berlatar waktu tahun 1858-an, pra-perang saudara Amerika. Di masa itu perbudakan hal yang wajar, perdagangan manusia, kepemilikan manusia layaknya properti khususnya pada ras kulit hitam menjadi eksploitasi cerita dibalik film Django Unchained ini. Jadi tidak salah seperti yang disebut diawal, bahwa film ini memang benar-benar rasis. Dan memang tampaknya film Tarantino yang satu ini, ingin mengingatkan pada kita, pernah ada masa-masa seperti itu. Dimana ras kulit hitam menjadi manusia inferior, manusia kelas “kedua”, pantas menjadi property dan komoditas. Seperti film lain dengan tema berlatar waktu serupa.

      Untuk plot cerita sebenarnya sangat sederhana. Dr. Schultz orang Jerman bersama kudanya Fritz tanpa diketahui darimana datangnya tiba-tiba menghampiri rombongan budak yang mau dipindahkan dengan pengawalan 2 orang kulit putih. Dr. Schultz disini mencari budak yang berasal dari perkebunan Carrucan yang mengenali wajah buronan yang dicarinya, Brittle bersaudara. Dari sanalah pertemuan antara Dr. Schultz dan Django terjadi. Django pun dibebaskan dan hanya diminta oleh Dr. Schultz menunjukkan yang mana Brittle bersaudara, Big John, Ellis, Little Raj. Penonton baru akan mengetahui pekerjaan Dr. Schultz sebagai Bounty Hunter (Pemburu bayaran) setelah menlihat kehebatan Dr. Schultz membunuh buronan berhadiah, seorang deputi. Penonton juga baru mengetahui apakah protagonist atau antagonis Dr. Schultz ini yang diperankan Christoph Waltz, mengingat film hebat lainnya Inglourious Basterds (2009), mengambil Christoph Waltz berperan antagonis sebagai Hans Landa.

       Petualangan yang sebenarnya terjadi usai urusan Brittle selesai, di Tennessee. Dr. Schultz terpana ketika ia mengetahui Django memiliki istri bernama Jerman, Broomhilda (Kerry Washington). Budak perempuan yang dibesarkan di keluarga Jerman dan bisa berbahasa Jerman. Django berjanji setelah urusan dengan Dr. Schultz soal Brittle selesai, ia akan ke Greenvile, Mississippi, menyelamatkan istrinya Broomhilda dari perbudakan. Bukan hanya terpana karena heran Django ternyata memiliki istri, ia juga terpana karena istri Django bernama Broomhilda, seperti nama legenda Nordik/Jermanik Brynhildr yang ditawan dan diselamatkan Siegfried. Dari situ Dr. King mau membantu Django menyelamatkan istrinya, karena ia merasa mendapatkan kehormatan sebagai orang Jerman bertemu Siegfried dalam kehidupan nyata, menyelamatkan Broomhilda. Setelah terlebih dahulu mereka berhubungan partner menguntungkan sebagai Bounty Hunter sampai salju mencair.
           
        Sudah menjadi ciri khas dalam setiap film Tarantino, selalu penuh adegan berdarah yang estestik dan mengekspose kebrutalan pembunuhan dengan penuh unsur satir, musiknya pun rileks, dari lagu-lagu tahun 1960-80an.  Seperti yang terlihat juga di film Tarantino lainnya di Reservoir Dogs (1992), Pulp Fiction (1994), Kill Bill Vol. 1 (2003), Kill Bill Vol. 2 (2004), Inglourious Basterds (2009), The Hateful Eight (2015) dan lain-lainnya. Film Tarantino yang ini sama seperti film lainnya, merupakan  film beraliran black comedy dan neo-noir. Dari awal film tanpa melihat poster, kita pasti langsung tahu, ini adalah film Tarantino karena kekhasannya ini. Walaupun ia kerap dikritik karena penggunaan kata rasial dalam setiap filmnya, seperti kata rasial “N” word. Namun Samuel L. Jackson yang sering bermain dalam filmnya, dan juga Denzel Washington membelanya, mereka menyebut Tarantino adalah seniman yang baik. Selain menyutradarai, ia sering tampil menjadi aktor pendukung/cameo di setiap filmnya. Sama seperti Stan Lee muncul di setiap film Marvel-nya.

       Kehebatan Tarantino melegenda dalam mengarahkan film ini juga terlihat dari salah satu scene film ini dimana ketika Calvin Candie seorang Francophile (bergaya Prancis) diperankan Leonardo DiCaprio usai diberitahu oleh salah satu pelayannya Stephen (Samuel L. Jackson) menjelaskan ada niat terselubung dari kedatangan Dr. Schultz dan Django ke Big House-nya. Bahwa mereka berdua tidak ingin benar-benar membeli Mandingo (Budak yang dijadikan petarung, dan dijadikan tontonan para borjuis tuan tanah), mereka hanya ingin membeli dan membebaskan Broomhilda istri Django. Merasa diperdaya Monsieur (panggilan tuan dalam bahasa Prancis) Candie sangat berang. Ia marah sambil sedikit mengintimidasi dengan ceritanya soal Ben, yang sudah menjadi tengkorak kepala. Ben dulu adalah budak turun menurun keluarga Candie, Candie menjelaskan soal teori dalam ilmu Frenologi (Analisis kepribadian berdasarkan bentuk kepala), sambil menggergaji tengkorak kepala Ben, ia menunjukkan ada area 3 lubang yang berhubungan dengan kepatuhan sebagai budak (Servility), karena Ben orang Afrika ras kulit hitam, Monsieur Candie hanya ingin menunjukkan dan merendahkan Django yang merupakan ras kulit hitam, dan seharusnya patuh menjadi budak, ia yakin tengkorak Django juga memiliki 3 lubang yang berhubungan dengan kepatuhan itu.

     Sambil marah dan menggebrak meja Candie atau Leo ini tak tahu meja yang digebraknya ada gelas. Dan tentu saja darah keluar dari tangannya terluka oleh pecahan gelasan, banyak yang menyebut adegan ini adegan paling totalitas yang pernah diperankan Leo (sebelum keluar film The Revenant - 2015), karena setelah terluka tangannya dan mengeluarkan banyak darah, nampaknya Leo tetap lanjut memperankan tokoh yang dimainkannya. Ini tak lain andil Tarantino pula yang tidak men-cut adegan untuk menyembuhkan tangan Leo. Roll film tetap berputar, Acting tetap berjalan, improvisasi akting Leo pun mengalir begitu saja. Adegan epic yang pantas dikenang dalam industri film.

Nilai : Outstanding


Tidak ada komentar:

Posting Komentar