Tak ada film yang lebih rasis dibanding,
Django Unchained (2012). Begitulah
kesan yang terbangun walaupun itu hanya sedikit penggambaran. Karena memang
begitulah yang ingin diangkat oleh Quentin Tarantino, selain adegan-adegan aksi
majestic yang super-awesome dari tokoh
utama, Dr. King Schultz (Christoph Waltz) dan Django (Jamie Foxx). Film ini
berlatar waktu tahun 1858-an, pra-perang saudara Amerika. Di masa itu
perbudakan hal yang wajar, perdagangan manusia, kepemilikan manusia layaknya
properti khususnya pada ras kulit hitam menjadi eksploitasi cerita dibalik film
Django Unchained ini. Jadi tidak
salah seperti yang disebut diawal, bahwa film ini memang benar-benar rasis. Dan
memang tampaknya film Tarantino yang satu ini, ingin mengingatkan pada kita, pernah
ada masa-masa seperti itu. Dimana ras kulit hitam menjadi manusia inferior,
manusia kelas “kedua”, pantas menjadi property dan komoditas. Seperti film lain
dengan tema berlatar waktu serupa.
Untuk plot cerita sebenarnya sangat
sederhana. Dr. Schultz orang Jerman bersama kudanya Fritz tanpa diketahui
darimana datangnya tiba-tiba menghampiri rombongan budak yang mau dipindahkan
dengan pengawalan 2 orang kulit putih. Dr. Schultz disini mencari budak yang
berasal dari perkebunan Carrucan yang mengenali wajah buronan yang dicarinya,
Brittle bersaudara. Dari sanalah pertemuan antara Dr. Schultz dan Django
terjadi. Django pun dibebaskan dan hanya diminta oleh Dr. Schultz menunjukkan
yang mana Brittle bersaudara, Big John, Ellis, Little Raj. Penonton baru akan
mengetahui pekerjaan Dr. Schultz sebagai Bounty
Hunter (Pemburu bayaran) setelah menlihat kehebatan Dr. Schultz membunuh
buronan berhadiah, seorang deputi. Penonton juga baru mengetahui apakah protagonist
atau antagonis Dr. Schultz ini yang diperankan Christoph Waltz, mengingat film
hebat lainnya Inglourious Basterds (2009),
mengambil Christoph Waltz berperan antagonis sebagai Hans Landa.
Petualangan yang sebenarnya terjadi
usai urusan Brittle selesai, di Tennessee. Dr. Schultz terpana ketika ia
mengetahui Django memiliki istri bernama Jerman, Broomhilda (Kerry Washington).
Budak perempuan yang dibesarkan di keluarga Jerman dan bisa berbahasa Jerman.
Django berjanji setelah urusan dengan Dr. Schultz soal Brittle selesai, ia akan
ke Greenvile, Mississippi, menyelamatkan istrinya Broomhilda dari perbudakan. Bukan
hanya terpana karena heran Django ternyata memiliki istri, ia juga terpana
karena istri Django bernama Broomhilda, seperti nama legenda Nordik/Jermanik
Brynhildr yang ditawan dan diselamatkan Siegfried. Dari situ Dr. King mau
membantu Django menyelamatkan istrinya, karena ia merasa mendapatkan kehormatan
sebagai orang Jerman bertemu Siegfried dalam kehidupan nyata, menyelamatkan
Broomhilda. Setelah terlebih dahulu mereka berhubungan partner menguntungkan
sebagai Bounty Hunter sampai salju
mencair.
Sudah menjadi ciri khas dalam setiap
film Tarantino, selalu penuh adegan berdarah yang estestik dan mengekspose
kebrutalan pembunuhan dengan penuh unsur satir, musiknya pun rileks, dari
lagu-lagu tahun 1960-80an. Seperti yang
terlihat juga di film Tarantino lainnya di Reservoir
Dogs (1992), Pulp Fiction (1994),
Kill Bill Vol. 1 (2003), Kill Bill Vol. 2 (2004), Inglourious Basterds (2009), The Hateful Eight (2015) dan
lain-lainnya. Film Tarantino yang ini sama seperti film lainnya, merupakan film beraliran black comedy dan neo-noir.
Dari awal film tanpa melihat poster, kita pasti langsung tahu, ini adalah film
Tarantino karena kekhasannya ini. Walaupun ia kerap dikritik karena penggunaan
kata rasial dalam setiap filmnya, seperti kata rasial “N” word. Namun Samuel L. Jackson yang sering bermain dalam filmnya,
dan juga Denzel Washington membelanya, mereka menyebut Tarantino adalah seniman
yang baik. Selain menyutradarai, ia sering tampil menjadi aktor pendukung/cameo di setiap filmnya. Sama seperti
Stan Lee muncul di setiap film Marvel-nya.
Kehebatan
Tarantino melegenda dalam mengarahkan film ini juga terlihat dari salah satu scene film ini dimana ketika Calvin
Candie seorang Francophile (bergaya Prancis) diperankan Leonardo DiCaprio usai diberitahu
oleh salah satu pelayannya Stephen (Samuel L. Jackson) menjelaskan ada niat
terselubung dari kedatangan Dr. Schultz dan Django ke Big House-nya. Bahwa
mereka berdua tidak ingin benar-benar membeli Mandingo (Budak yang dijadikan petarung, dan dijadikan tontonan
para borjuis tuan tanah), mereka hanya ingin membeli dan membebaskan Broomhilda
istri Django. Merasa diperdaya Monsieur (panggilan tuan dalam bahasa Prancis)
Candie sangat berang. Ia marah sambil sedikit mengintimidasi dengan ceritanya
soal Ben, yang sudah menjadi tengkorak kepala. Ben dulu adalah budak turun
menurun keluarga Candie, Candie menjelaskan soal teori dalam ilmu Frenologi (Analisis
kepribadian berdasarkan bentuk kepala), sambil menggergaji tengkorak kepala
Ben, ia menunjukkan ada area 3 lubang yang berhubungan dengan kepatuhan sebagai
budak (Servility), karena Ben orang
Afrika ras kulit hitam, Monsieur Candie hanya ingin menunjukkan dan merendahkan
Django yang merupakan ras kulit hitam, dan seharusnya patuh menjadi budak, ia
yakin tengkorak Django juga memiliki 3 lubang yang berhubungan dengan kepatuhan
itu.
Sambil marah dan menggebrak meja Candie atau Leo ini tak tahu meja yang digebraknya ada gelas. Dan tentu saja darah keluar dari tangannya terluka oleh pecahan gelasan, banyak yang menyebut adegan ini adegan paling totalitas yang pernah diperankan Leo (sebelum keluar film The Revenant - 2015), karena setelah terluka tangannya dan mengeluarkan banyak darah, nampaknya Leo tetap lanjut memperankan tokoh yang dimainkannya. Ini tak lain andil Tarantino pula yang tidak men-cut adegan untuk menyembuhkan tangan Leo. Roll film tetap berputar, Acting tetap berjalan, improvisasi akting Leo pun mengalir begitu saja. Adegan epic yang pantas dikenang dalam industri film.
Nilai : Outstanding
Sambil marah dan menggebrak meja Candie atau Leo ini tak tahu meja yang digebraknya ada gelas. Dan tentu saja darah keluar dari tangannya terluka oleh pecahan gelasan, banyak yang menyebut adegan ini adegan paling totalitas yang pernah diperankan Leo (sebelum keluar film The Revenant - 2015), karena setelah terluka tangannya dan mengeluarkan banyak darah, nampaknya Leo tetap lanjut memperankan tokoh yang dimainkannya. Ini tak lain andil Tarantino pula yang tidak men-cut adegan untuk menyembuhkan tangan Leo. Roll film tetap berputar, Acting tetap berjalan, improvisasi akting Leo pun mengalir begitu saja. Adegan epic yang pantas dikenang dalam industri film.
Nilai : Outstanding

Tidak ada komentar:
Posting Komentar