Jumat, 23 Maret 2018

Parameter Penilaian Film Telaga Sineas

Hasil gambar untuk critique

Ada beberapa parameter penilaian untuk sebuah film, yang kelak akan menentukan apakah film itu dikatakan bagus atau tidak. Walaupun penilaian itu bersifat subjektif, namun hasil penilaian itu akan menjadi acuan rekomendasi untuk yang membutuhkannya. Ajang bergengsi dunia penilai film dan pemberi penghargaan salah satunya dipersembahkan oleh AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and Sciences) yaitu  Academy Award atau kita mengenalnya Piala Oscar ini juga memiliki parameter dalam menentukan film apa yang terbaik dan mendapatkan penghargaan Best Picture, yaitu dengan Teknik Preferential Ballot. Berbeda dengan teknik voting, teknik ini membutuhkan hak suara sekitar 6000 member AMPAS, untuk mendapatkan 50% lebih hak suara. Setiap member nanti akan diberi kertas untuk menentukan sesuai dengan pilihan menuliskan judul film yang jadi preferensi utama, sampai preferensi terakhir (misalnya di penyelenggaraan 2017, berarti juri membuat urutan 1 hingga 9).

Lalu selain dari ajang Academy Awards yang ada di dunia nyata, tak pelak ada pula dari dunia maya pemberi rating film. Seperti IMDb (Internet movie database), Rotten Tomatoes, Metacritic, Fandango, Telaga Sineas, dan masih banyak lagi. Telaga Sineas apa sih? Baru denger haha. Dari beberapa lembaga dunia nyata maupun maya perating, pengkritik, pe-review, dan penilai film itu, tentu punya caranya masing-masing dalam menentukan “The Best Movie”. Tentu saja Blog ini juga memiliki parameter, apa-apa saja yang dinilai untuk mengetahui kualitas dari film yang akan direview dan dikritik, berikut selengkapnya :

1.      Screenplay dan Plot Cerita
Sebelum menonton film, tentu kita ingin tahu seperti apa ceritanya dari membaca synopsis atau ringkasan ceritanya terlebih dahulu. Synopsis ini yang biasanya jadi teaser, agar kita tertarik menontonnya. Nah, Synopsis yang kita baca ini sebenarnya adalah penggalan dari skenario atau screenplay yang dibuat screenwriter. Skenario ini yang sederhananya membangun film menjadi hidup dengan penggambaran suasana, dialog dan sebagainya-sebagainya terlihat di layar. Banyak yang kemudian bertanya, lantas apa film yang diadaptasi perlu skenario? Tentu saja, contoh film “The Lord of the Ring : The Fellowship of the Ring” yang diadaptasi dari buku karangan J.R.R Tolkien dengan judul serupa, penulisan skenario film tersebut digarap oleh salah satunya Peter Jackson yang sekaligus jadi Sutradara, kebanyakan penulis skenario yang baik ia menjadi sutradaranya. Ini beberapa screenwriter atau penulis skenario hebat : Billy Wilder, Quentin Tarantino, Francis F. Coppola, William Goldman, Charlie Kaufmann, Woody Allen, dll.

2.      Dialog yang Terbangun
Ada relevansi dengan point nomor 1, point ke-2 ini lebih dihidupkan oleh pemerannya, aktornya. Tanpa aktor yang tepat dan canggih, skenario film akan hanya menjadi pepesan kosong kata-kata semata. Tanpa disadari, aktor kadang melakukan improvisasi dalam setiap scene yang seharusnya sudah tertera dalam benang merah skenario. Hal itu dilakukan biasa karena aktor ingin lebih menghidupkan suasana cerita.

3.      Aktor, Akting, dan Karakter yang Dimainkan
“Akting yang baik adalah ketika tidak berakting”, adagium yang sering dilontarkan disela-sela dunia akting. Itu maksudnya, akting yang baik itu ketika aktornya terlihat natural, seperti menjalani rutinitasnya sehari-hari, ia menganggap kamera dan penonton (kalau dalam sebuah panggung drama) tidak ada. Itu pula yang menjadi dasar penilaian film di blog ini. Tanpa mengetahui siapa aktor dalam sebuah film kita tidak akan mendiskreditkan kemampuan aktor debutan. Aktor kawakan yang sudah senior pun tidak menutup kemungkinan ia berakting kurang baik, maka point ini menegaskan, bukan tentang siapa aktornya, tapi tentang bagaimana performa aktingnya.

4.      Sutradara
Sutradara atau dalam bahasa Inggrisnya Director, orang yang mendireksi, mengarahkan menjadi dirigen “simfoni” film itu memiliki jiwa. Ia yang bertanggungjawab selama proses kreasi film, baik dari hal teknis maupun interpretatif. Kru film dari bagian kamera, sound, cahaya, kostum, penata rias, dll dibawah kontrol sutradara. Maka kesuksesan film tergantung arahan bagaimana Sutradara itu bekerja.

5.      Audio, Musik
Pembaca pasti pernah dibawa larut oleh suasana dalam film baik itu suasana ceria, sedih, takut-mendebarkan, bahkan feeling awesome. Ya itulah kekuatan musik dalam sebuah film. Selain itu juga sound effect yang ada pada film seperti suara jejak langkah seseorang, suara gemericik cipratan air, adu pedang, bahkan suara gesekan kain baju beradu ada pekerja pembuat suaranya, agar suara mendetail dalam film itu terdengar jelas dan memberikan efek suasana tertentu pastinya.

6.      Cinematography, Visual, Teknik Gambar, Spesial Efek Make Up dan Kostum
Seperti dalam kategori penghargaan Academy Awards, dalam blog ini juga menggunakan ukuran Cinematogrpahy atau bentuk seni unik untuk film, dimana ekspos gambar dengan pencahayaan yang baik serta penampilan estetika dari setiap angle kamera menyorot sebuah adegan, serta bagaimana pemilihan kostum dan special efek lainnya, menjadi tolak-ukur pasti menilai film tersebut baik atau tidak.

7.      Tujuan film, Pesan Moral yang mau Disampaikan
Last but not least, tentu tujuan dan nilai yang dikandung dalam film tersebut, genre film tertentu pasti mempengaruhi keseluruhan ide dan nilai apa yang akan disampaikan, dan tentu ada pesan moral yang bisa dipertik oleh penonton agar memberi kesan tersendiri.

            Itulah 7 parameter penilaian blog Telaga Sineas me-review dan mengkritik film yang akan dipilih nantinya. Pemilihan film yang masuk dalam radar Telaga Sineas pun tentu sudah melalui pemilihan yang matang. Kita berharap pembaca nanti mendapatkan manfaat dari tulisan kita tentang film, mungkin rujukan, rekomendasi, ataupun menyatakan pendapat mengkritik kritikan film hehe. Maka sekian, tunggu tulisan kita berikutnya sampai pada konten review dan kritikan film yang intisari dari blog ini.

Rabu, 21 Maret 2018

Prolog : Membaca Film




Pada tulisan kali ini kita akan membahas, kenapa memilih membicarakan film? Kenapa menonton film? Beberapa menjawab, karena kita generasi visual, bukan lagi menelaah dengan membaca kata demi kata demi memuaskan keingintahuan kita tentang dunia. “Jendela Dunia” tergantikan dengan semangat pengalaman sekaligus pengetahuan yang disajikan dengan menyaksikan film, apapun itu judul dan genrenya, Yup, termasuk Bokep. Skip. haha

Jadi apakah benar film menggantikan peran “Jendela Dunia”. Padahal keduanya sama-sama anak kandung seni dan kebudayaan. Banyak pula film yang diadaptasi dari buku. Oleh sebab itu daripada kita mengadu-debatkan film dan buku, terlebih pendapat diatas belum tentu tepat dan ada landasannya. Ada baiknya kita telisik sejarahnya terlebih dahulu karena ternyata ada kaitannya bagaimana buku dan film nyatanya bersinerji membangun peradaban. Dan tentu akan dibahas pula bagaimana bisa manusia dalam peradabannya menjadikan film sebagai media ilmu pengetahuan. Film ilmu pengetahuan bukan saja genre film documenter ya.

Film secara bahasa adalah lakon hidup atau gambar gerak, mungkin inilah mengapa film dalam bahasa Inggris dikatakan movie, dari kata move (gerak)lalu menjadi movee, dan movie. Hahaha hanya asumsi. Film dapat diabadikan lewat seluloid yang digunakan untuk menyimpan gambar negative dari sebuah objek, dan juga bisa disimpan dan diputar kembali melalui media digital.

Sejarah dulu, sebelum ada kamera video seperti sekarang, ada seorang pemuda bernama Eadweard Muybridge, yang penasaran ”Apakah keempat kaki kuda berada pada posisi melayang pada saat bersamaan ketika kuda berlari?". Lalu dia iseng-iseng coba memfoto kuda yang berlari dan jadilah 16 frame gambar. 16 frame itu lantas disusun, menjadi rangkaian gerakan secara urut. Jadilah kuda itu bergerak dan berada pada satu momen kaki itu melayang tidak menyentuh tanah (film Muybridge ini kemudian disebut-sebut kelak sebagai film pertama di dunia). Teknik penyusunan frame tersebut kita kenal dengan teknik membuat film kartun yang selama ini kita tonton.

Pasca penemuan gambar bergerak Muybridge berhasil. Perkembangan film yang sebenarnya dimulai ketika digunakannya alat Kinetoskop temuan Thomas Alfa Edison yang pada masa itu digunakan oleh penonton individual. Film yang dihasilkan awalnya masih bisu dan tidak berwarna. Dan sejak itu dimulailah era baru sinematografi.

Begitu sejarah singkat tentang film. Yang sebenarnya kita sendiri bisa selancar-ria diinternet untuk mencari tahu sendiri dan memuaskan rasa penasaran kita. Karena penulis sendiri sesungguhnya hanya copy paste terkait penjabaran singkat sejarah diatas. Haha. Oh iya, lalu bagaimana dengan buku? Ya, sejarah buku pun bisa kalian cari sendiri bagaimana perkembangannya di internet,serta korelasinya dengan film. Hmm.

Maka pada pointnya, sebenarnya dalam tulisan yang diberi judul “Prolog” ini, saya selaku penulis dan kelak akan intens setia mengelola blog ini, tidak akan membahas panjang lebar bagaiamana sejarah film, apalagi korelasinya dengan buku. Namun akan fokus menjawab pertanyaan, “kenapa memilih membicarakan film?”. Agar bisa mengikuti setiap postingan review film dalam blog ini, begitulah kira-kira jawabannya. Akhir kata, Salam kenal.