Minggu, 13 Mei 2018

Tonton Film Marvel Yang Mana Dulu?


Tak sulit menjadi fans karbitan MCU (Marvel Cinematic Universe). Karbitan? Yup, Karbitan adalah istilah yang disematkan pada seseorang yang  baru “Kemarin Sore” atau instan jadinya. Ini biasa digunakan pada fans bola yang mengklaim dirinya supporter sejati, namun nyatanya baru “kemarin sore” ngefansnya, pemahamannya pun masih cetek tentang team yang didukungnya, dan juga ia tidak menganggap terlalu penting jika team yang didukungnya tampil tanding. Istilah karbitan ini dari kata karbit, Karbit atau Kalsium Karbida (Calcium Carbide) sendiri sebenarnya adalah sebuah sebuah senyawa kimia, dengan rumus CaC2. Lho kok bawa-bawa senyawa kimia segala?. Ya, disinilah kita akan paham, karena melihat penggunaan Karbit inilah yang biasanya dipakai proses pengelasan atau juga dapat mempercepat pematangan buah, maka istilah fans karbitan jika diasumsikan adalah fans yang—seperti yang disebutkan diawal tadi—tidak melalui proses yang panjang, alias instan. Tahu sendiri kan yang instan-instan itu rentan, seperti besi yang solid dengan besi hasil las-an tentu berbeda.

         Nah, kembali ke topik awal, tak sulit menjadi fans karbitan MCU (Marvel Cinematic Universe). Salahkah menjadi karbitan? Tentu tidak. Yang penting setelahnya, berikhtiar menjadi fans-sejati. Lalu bagaimana cara mudah menjadi fans MCU? Banyak langkahnya, salah satunya adalah mengetahui karakter dalam film-film di MCU, agar sewaktu menonton Avengers Invinity War (2018), tidak asal-ngomong timbul pertanyaan “Itu siapa sih yang warna hijau?”, “Yang itu siapa manusia pohon?”, “Gua ngefans ni sama yang brewok, yang kayak bajak laut”. Nah, untuk mengetahui siapa-siapa saja karakter dalam MCU, tentu kita harus mengikuti semua film MCU, supaya selain kita mengetahui juga tahu jalan cerita garis besar MCU. Walaupun sebenarnya banyak film Marvel yang diadaptasi dari komik-komik Stan Lee, minimal kita tonton film yang menjadi benang merah sampai kenapa sih terjadi perang memperebutkan batu abadi. Biar tidak kuper. KUPER, bukan Cooper pengisi suara Rocket ya! Berikut, inilah 18 film wajib tonton sebelum kamu menonton dan bisa memahami film Avengers Invinity War :
  1. Iron Man (2008)
  2. The Incredible Hulk (2008)
  3. Iron Man 2 (2010)
  4. Thor (2011)
  5. Captain America The First Avenger (2011)
  6.  The Avengers (2012)
  7. Iron Man 3 (2013)
  8.  Thor The Dark World (2013)
  9. Captain America The Winter Soldier (2014)
  10. Guardians Of The Galaxy (2014)
  11. Avengers  Age of Ultron (2015)
  12. Ant-Man (2015)
  13. Doctor Strange (2016)
  14. Captain America Civil War (2016)
  15. Guardians Of The Galaxy Vol. 2 (2017)
  16. Thor - Ragnarok (2017)
  17. Spider-Man Homecoming (2017)
  18. Black Panther (2018)
    Itulah urutan atau timeline film-film MCU yang wajib kamu tonton. Jika sudah kamu tonton semua, maka sah kamu menjadi fans karbitan MCU, dan tentu boleh menonton dan bisa memahami film Avengers Invinity War. Lho kok masih dibilang karbitan? Kalau mau menjadi fans sejati silahkan komen dibawah ini, dan rutin mengikuti setiap postingan Telaga Sineas, Hehehe Salam.


Nb : Untuk link film kita tidak menyediakan, usaha mu mencari film-film tersebut, jadi nilai plus ikhtiarmu menjadi fans sejati MCU.


Selasa, 01 Mei 2018

Django Unchained (2012) - Big Trouble Maker


        

     Tak ada film yang lebih rasis dibanding, Django Unchained (2012). Begitulah kesan yang terbangun walaupun itu hanya sedikit penggambaran. Karena memang begitulah yang ingin diangkat oleh Quentin Tarantino, selain adegan-adegan aksi majestic yang super-awesome dari tokoh utama, Dr. King Schultz (Christoph Waltz) dan Django (Jamie Foxx). Film ini berlatar waktu tahun 1858-an, pra-perang saudara Amerika. Di masa itu perbudakan hal yang wajar, perdagangan manusia, kepemilikan manusia layaknya properti khususnya pada ras kulit hitam menjadi eksploitasi cerita dibalik film Django Unchained ini. Jadi tidak salah seperti yang disebut diawal, bahwa film ini memang benar-benar rasis. Dan memang tampaknya film Tarantino yang satu ini, ingin mengingatkan pada kita, pernah ada masa-masa seperti itu. Dimana ras kulit hitam menjadi manusia inferior, manusia kelas “kedua”, pantas menjadi property dan komoditas. Seperti film lain dengan tema berlatar waktu serupa.

      Untuk plot cerita sebenarnya sangat sederhana. Dr. Schultz orang Jerman bersama kudanya Fritz tanpa diketahui darimana datangnya tiba-tiba menghampiri rombongan budak yang mau dipindahkan dengan pengawalan 2 orang kulit putih. Dr. Schultz disini mencari budak yang berasal dari perkebunan Carrucan yang mengenali wajah buronan yang dicarinya, Brittle bersaudara. Dari sanalah pertemuan antara Dr. Schultz dan Django terjadi. Django pun dibebaskan dan hanya diminta oleh Dr. Schultz menunjukkan yang mana Brittle bersaudara, Big John, Ellis, Little Raj. Penonton baru akan mengetahui pekerjaan Dr. Schultz sebagai Bounty Hunter (Pemburu bayaran) setelah menlihat kehebatan Dr. Schultz membunuh buronan berhadiah, seorang deputi. Penonton juga baru mengetahui apakah protagonist atau antagonis Dr. Schultz ini yang diperankan Christoph Waltz, mengingat film hebat lainnya Inglourious Basterds (2009), mengambil Christoph Waltz berperan antagonis sebagai Hans Landa.

       Petualangan yang sebenarnya terjadi usai urusan Brittle selesai, di Tennessee. Dr. Schultz terpana ketika ia mengetahui Django memiliki istri bernama Jerman, Broomhilda (Kerry Washington). Budak perempuan yang dibesarkan di keluarga Jerman dan bisa berbahasa Jerman. Django berjanji setelah urusan dengan Dr. Schultz soal Brittle selesai, ia akan ke Greenvile, Mississippi, menyelamatkan istrinya Broomhilda dari perbudakan. Bukan hanya terpana karena heran Django ternyata memiliki istri, ia juga terpana karena istri Django bernama Broomhilda, seperti nama legenda Nordik/Jermanik Brynhildr yang ditawan dan diselamatkan Siegfried. Dari situ Dr. King mau membantu Django menyelamatkan istrinya, karena ia merasa mendapatkan kehormatan sebagai orang Jerman bertemu Siegfried dalam kehidupan nyata, menyelamatkan Broomhilda. Setelah terlebih dahulu mereka berhubungan partner menguntungkan sebagai Bounty Hunter sampai salju mencair.
           
        Sudah menjadi ciri khas dalam setiap film Tarantino, selalu penuh adegan berdarah yang estestik dan mengekspose kebrutalan pembunuhan dengan penuh unsur satir, musiknya pun rileks, dari lagu-lagu tahun 1960-80an.  Seperti yang terlihat juga di film Tarantino lainnya di Reservoir Dogs (1992), Pulp Fiction (1994), Kill Bill Vol. 1 (2003), Kill Bill Vol. 2 (2004), Inglourious Basterds (2009), The Hateful Eight (2015) dan lain-lainnya. Film Tarantino yang ini sama seperti film lainnya, merupakan  film beraliran black comedy dan neo-noir. Dari awal film tanpa melihat poster, kita pasti langsung tahu, ini adalah film Tarantino karena kekhasannya ini. Walaupun ia kerap dikritik karena penggunaan kata rasial dalam setiap filmnya, seperti kata rasial “N” word. Namun Samuel L. Jackson yang sering bermain dalam filmnya, dan juga Denzel Washington membelanya, mereka menyebut Tarantino adalah seniman yang baik. Selain menyutradarai, ia sering tampil menjadi aktor pendukung/cameo di setiap filmnya. Sama seperti Stan Lee muncul di setiap film Marvel-nya.

       Kehebatan Tarantino melegenda dalam mengarahkan film ini juga terlihat dari salah satu scene film ini dimana ketika Calvin Candie seorang Francophile (bergaya Prancis) diperankan Leonardo DiCaprio usai diberitahu oleh salah satu pelayannya Stephen (Samuel L. Jackson) menjelaskan ada niat terselubung dari kedatangan Dr. Schultz dan Django ke Big House-nya. Bahwa mereka berdua tidak ingin benar-benar membeli Mandingo (Budak yang dijadikan petarung, dan dijadikan tontonan para borjuis tuan tanah), mereka hanya ingin membeli dan membebaskan Broomhilda istri Django. Merasa diperdaya Monsieur (panggilan tuan dalam bahasa Prancis) Candie sangat berang. Ia marah sambil sedikit mengintimidasi dengan ceritanya soal Ben, yang sudah menjadi tengkorak kepala. Ben dulu adalah budak turun menurun keluarga Candie, Candie menjelaskan soal teori dalam ilmu Frenologi (Analisis kepribadian berdasarkan bentuk kepala), sambil menggergaji tengkorak kepala Ben, ia menunjukkan ada area 3 lubang yang berhubungan dengan kepatuhan sebagai budak (Servility), karena Ben orang Afrika ras kulit hitam, Monsieur Candie hanya ingin menunjukkan dan merendahkan Django yang merupakan ras kulit hitam, dan seharusnya patuh menjadi budak, ia yakin tengkorak Django juga memiliki 3 lubang yang berhubungan dengan kepatuhan itu.

     Sambil marah dan menggebrak meja Candie atau Leo ini tak tahu meja yang digebraknya ada gelas. Dan tentu saja darah keluar dari tangannya terluka oleh pecahan gelasan, banyak yang menyebut adegan ini adegan paling totalitas yang pernah diperankan Leo (sebelum keluar film The Revenant - 2015), karena setelah terluka tangannya dan mengeluarkan banyak darah, nampaknya Leo tetap lanjut memperankan tokoh yang dimainkannya. Ini tak lain andil Tarantino pula yang tidak men-cut adegan untuk menyembuhkan tangan Leo. Roll film tetap berputar, Acting tetap berjalan, improvisasi akting Leo pun mengalir begitu saja. Adegan epic yang pantas dikenang dalam industri film.

Nilai : Outstanding