Rabu, 21 Maret 2018

Prolog : Membaca Film




Pada tulisan kali ini kita akan membahas, kenapa memilih membicarakan film? Kenapa menonton film? Beberapa menjawab, karena kita generasi visual, bukan lagi menelaah dengan membaca kata demi kata demi memuaskan keingintahuan kita tentang dunia. “Jendela Dunia” tergantikan dengan semangat pengalaman sekaligus pengetahuan yang disajikan dengan menyaksikan film, apapun itu judul dan genrenya, Yup, termasuk Bokep. Skip. haha

Jadi apakah benar film menggantikan peran “Jendela Dunia”. Padahal keduanya sama-sama anak kandung seni dan kebudayaan. Banyak pula film yang diadaptasi dari buku. Oleh sebab itu daripada kita mengadu-debatkan film dan buku, terlebih pendapat diatas belum tentu tepat dan ada landasannya. Ada baiknya kita telisik sejarahnya terlebih dahulu karena ternyata ada kaitannya bagaimana buku dan film nyatanya bersinerji membangun peradaban. Dan tentu akan dibahas pula bagaimana bisa manusia dalam peradabannya menjadikan film sebagai media ilmu pengetahuan. Film ilmu pengetahuan bukan saja genre film documenter ya.

Film secara bahasa adalah lakon hidup atau gambar gerak, mungkin inilah mengapa film dalam bahasa Inggris dikatakan movie, dari kata move (gerak)lalu menjadi movee, dan movie. Hahaha hanya asumsi. Film dapat diabadikan lewat seluloid yang digunakan untuk menyimpan gambar negative dari sebuah objek, dan juga bisa disimpan dan diputar kembali melalui media digital.

Sejarah dulu, sebelum ada kamera video seperti sekarang, ada seorang pemuda bernama Eadweard Muybridge, yang penasaran ”Apakah keempat kaki kuda berada pada posisi melayang pada saat bersamaan ketika kuda berlari?". Lalu dia iseng-iseng coba memfoto kuda yang berlari dan jadilah 16 frame gambar. 16 frame itu lantas disusun, menjadi rangkaian gerakan secara urut. Jadilah kuda itu bergerak dan berada pada satu momen kaki itu melayang tidak menyentuh tanah (film Muybridge ini kemudian disebut-sebut kelak sebagai film pertama di dunia). Teknik penyusunan frame tersebut kita kenal dengan teknik membuat film kartun yang selama ini kita tonton.

Pasca penemuan gambar bergerak Muybridge berhasil. Perkembangan film yang sebenarnya dimulai ketika digunakannya alat Kinetoskop temuan Thomas Alfa Edison yang pada masa itu digunakan oleh penonton individual. Film yang dihasilkan awalnya masih bisu dan tidak berwarna. Dan sejak itu dimulailah era baru sinematografi.

Begitu sejarah singkat tentang film. Yang sebenarnya kita sendiri bisa selancar-ria diinternet untuk mencari tahu sendiri dan memuaskan rasa penasaran kita. Karena penulis sendiri sesungguhnya hanya copy paste terkait penjabaran singkat sejarah diatas. Haha. Oh iya, lalu bagaimana dengan buku? Ya, sejarah buku pun bisa kalian cari sendiri bagaimana perkembangannya di internet,serta korelasinya dengan film. Hmm.

Maka pada pointnya, sebenarnya dalam tulisan yang diberi judul “Prolog” ini, saya selaku penulis dan kelak akan intens setia mengelola blog ini, tidak akan membahas panjang lebar bagaiamana sejarah film, apalagi korelasinya dengan buku. Namun akan fokus menjawab pertanyaan, “kenapa memilih membicarakan film?”. Agar bisa mengikuti setiap postingan review film dalam blog ini, begitulah kira-kira jawabannya. Akhir kata, Salam kenal. 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar