Pada tulisan kali ini kita akan
membahas, kenapa memilih membicarakan film? Kenapa menonton film? Beberapa
menjawab, karena kita generasi visual, bukan lagi menelaah dengan membaca kata
demi kata demi memuaskan keingintahuan kita tentang dunia. “Jendela Dunia”
tergantikan dengan semangat pengalaman sekaligus pengetahuan yang disajikan
dengan menyaksikan film, apapun itu judul dan genrenya, Yup, termasuk
Bokep. Skip. haha
Jadi apakah benar film menggantikan
peran “Jendela Dunia”. Padahal keduanya sama-sama anak kandung seni dan
kebudayaan. Banyak pula film yang diadaptasi dari buku. Oleh sebab itu daripada
kita mengadu-debatkan film dan buku, terlebih pendapat diatas belum tentu tepat
dan ada landasannya. Ada baiknya kita telisik sejarahnya terlebih dahulu karena
ternyata ada kaitannya bagaimana buku dan film nyatanya bersinerji membangun
peradaban. Dan tentu akan dibahas pula bagaimana bisa manusia dalam
peradabannya menjadikan film sebagai media ilmu pengetahuan. Film ilmu pengetahuan
bukan saja genre film documenter ya.
Film secara bahasa adalah lakon
hidup atau gambar gerak, mungkin inilah mengapa film dalam bahasa Inggris
dikatakan movie, dari
kata move (gerak), lalu
menjadi movee, dan movie. Hahaha hanya
asumsi. Film dapat diabadikan lewat seluloid yang digunakan untuk menyimpan
gambar negative dari sebuah objek, dan juga bisa disimpan dan diputar kembali
melalui media digital.
Sejarah dulu, sebelum ada kamera
video seperti sekarang, ada seorang pemuda bernama Eadweard Muybridge, yang
penasaran ”Apakah keempat kaki kuda berada pada
posisi melayang pada saat bersamaan ketika kuda berlari?". Lalu
dia iseng-iseng coba memfoto kuda yang berlari dan jadilah 16 frame gambar. 16
frame itu lantas disusun, menjadi rangkaian gerakan secara urut. Jadilah kuda
itu bergerak dan berada pada satu momen kaki itu melayang tidak menyentuh tanah
(film Muybridge ini kemudian disebut-sebut kelak sebagai film pertama di
dunia). Teknik penyusunan frame tersebut kita kenal dengan teknik membuat film
kartun yang selama ini kita tonton.
Pasca penemuan
gambar bergerak Muybridge berhasil. Perkembangan film yang sebenarnya dimulai
ketika digunakannya alat Kinetoskop temuan Thomas Alfa Edison yang
pada masa itu digunakan oleh penonton individual. Film yang dihasilkan awalnya
masih bisu dan tidak berwarna. Dan sejak itu dimulailah era baru
sinematografi.
Begitu sejarah
singkat tentang film. Yang sebenarnya kita sendiri bisa selancar-ria diinternet
untuk mencari tahu sendiri dan memuaskan rasa penasaran kita. Karena penulis
sendiri sesungguhnya hanya copy paste terkait penjabaran singkat sejarah
diatas. Haha. Oh iya, lalu bagaimana dengan buku? Ya, sejarah buku pun
bisa kalian cari sendiri bagaimana perkembangannya di internet,serta
korelasinya dengan film. Hmm.
Maka pada pointnya,
sebenarnya dalam tulisan yang diberi judul “Prolog” ini, saya selaku penulis
dan kelak akan intens setia mengelola blog ini, tidak akan membahas panjang
lebar bagaiamana sejarah film, apalagi korelasinya dengan buku. Namun akan
fokus menjawab pertanyaan, “kenapa memilih
membicarakan film?”. Agar bisa mengikuti setiap postingan review film dalam
blog ini, begitulah kira-kira jawabannya. Akhir kata, Salam kenal.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar