Minggu, 13 Mei 2018

Tonton Film Marvel Yang Mana Dulu?


Tak sulit menjadi fans karbitan MCU (Marvel Cinematic Universe). Karbitan? Yup, Karbitan adalah istilah yang disematkan pada seseorang yang  baru “Kemarin Sore” atau instan jadinya. Ini biasa digunakan pada fans bola yang mengklaim dirinya supporter sejati, namun nyatanya baru “kemarin sore” ngefansnya, pemahamannya pun masih cetek tentang team yang didukungnya, dan juga ia tidak menganggap terlalu penting jika team yang didukungnya tampil tanding. Istilah karbitan ini dari kata karbit, Karbit atau Kalsium Karbida (Calcium Carbide) sendiri sebenarnya adalah sebuah sebuah senyawa kimia, dengan rumus CaC2. Lho kok bawa-bawa senyawa kimia segala?. Ya, disinilah kita akan paham, karena melihat penggunaan Karbit inilah yang biasanya dipakai proses pengelasan atau juga dapat mempercepat pematangan buah, maka istilah fans karbitan jika diasumsikan adalah fans yang—seperti yang disebutkan diawal tadi—tidak melalui proses yang panjang, alias instan. Tahu sendiri kan yang instan-instan itu rentan, seperti besi yang solid dengan besi hasil las-an tentu berbeda.

         Nah, kembali ke topik awal, tak sulit menjadi fans karbitan MCU (Marvel Cinematic Universe). Salahkah menjadi karbitan? Tentu tidak. Yang penting setelahnya, berikhtiar menjadi fans-sejati. Lalu bagaimana cara mudah menjadi fans MCU? Banyak langkahnya, salah satunya adalah mengetahui karakter dalam film-film di MCU, agar sewaktu menonton Avengers Invinity War (2018), tidak asal-ngomong timbul pertanyaan “Itu siapa sih yang warna hijau?”, “Yang itu siapa manusia pohon?”, “Gua ngefans ni sama yang brewok, yang kayak bajak laut”. Nah, untuk mengetahui siapa-siapa saja karakter dalam MCU, tentu kita harus mengikuti semua film MCU, supaya selain kita mengetahui juga tahu jalan cerita garis besar MCU. Walaupun sebenarnya banyak film Marvel yang diadaptasi dari komik-komik Stan Lee, minimal kita tonton film yang menjadi benang merah sampai kenapa sih terjadi perang memperebutkan batu abadi. Biar tidak kuper. KUPER, bukan Cooper pengisi suara Rocket ya! Berikut, inilah 18 film wajib tonton sebelum kamu menonton dan bisa memahami film Avengers Invinity War :
  1. Iron Man (2008)
  2. The Incredible Hulk (2008)
  3. Iron Man 2 (2010)
  4. Thor (2011)
  5. Captain America The First Avenger (2011)
  6.  The Avengers (2012)
  7. Iron Man 3 (2013)
  8.  Thor The Dark World (2013)
  9. Captain America The Winter Soldier (2014)
  10. Guardians Of The Galaxy (2014)
  11. Avengers  Age of Ultron (2015)
  12. Ant-Man (2015)
  13. Doctor Strange (2016)
  14. Captain America Civil War (2016)
  15. Guardians Of The Galaxy Vol. 2 (2017)
  16. Thor - Ragnarok (2017)
  17. Spider-Man Homecoming (2017)
  18. Black Panther (2018)
    Itulah urutan atau timeline film-film MCU yang wajib kamu tonton. Jika sudah kamu tonton semua, maka sah kamu menjadi fans karbitan MCU, dan tentu boleh menonton dan bisa memahami film Avengers Invinity War. Lho kok masih dibilang karbitan? Kalau mau menjadi fans sejati silahkan komen dibawah ini, dan rutin mengikuti setiap postingan Telaga Sineas, Hehehe Salam.


Nb : Untuk link film kita tidak menyediakan, usaha mu mencari film-film tersebut, jadi nilai plus ikhtiarmu menjadi fans sejati MCU.


Selasa, 01 Mei 2018

Django Unchained (2012) - Big Trouble Maker


        

     Tak ada film yang lebih rasis dibanding, Django Unchained (2012). Begitulah kesan yang terbangun walaupun itu hanya sedikit penggambaran. Karena memang begitulah yang ingin diangkat oleh Quentin Tarantino, selain adegan-adegan aksi majestic yang super-awesome dari tokoh utama, Dr. King Schultz (Christoph Waltz) dan Django (Jamie Foxx). Film ini berlatar waktu tahun 1858-an, pra-perang saudara Amerika. Di masa itu perbudakan hal yang wajar, perdagangan manusia, kepemilikan manusia layaknya properti khususnya pada ras kulit hitam menjadi eksploitasi cerita dibalik film Django Unchained ini. Jadi tidak salah seperti yang disebut diawal, bahwa film ini memang benar-benar rasis. Dan memang tampaknya film Tarantino yang satu ini, ingin mengingatkan pada kita, pernah ada masa-masa seperti itu. Dimana ras kulit hitam menjadi manusia inferior, manusia kelas “kedua”, pantas menjadi property dan komoditas. Seperti film lain dengan tema berlatar waktu serupa.

      Untuk plot cerita sebenarnya sangat sederhana. Dr. Schultz orang Jerman bersama kudanya Fritz tanpa diketahui darimana datangnya tiba-tiba menghampiri rombongan budak yang mau dipindahkan dengan pengawalan 2 orang kulit putih. Dr. Schultz disini mencari budak yang berasal dari perkebunan Carrucan yang mengenali wajah buronan yang dicarinya, Brittle bersaudara. Dari sanalah pertemuan antara Dr. Schultz dan Django terjadi. Django pun dibebaskan dan hanya diminta oleh Dr. Schultz menunjukkan yang mana Brittle bersaudara, Big John, Ellis, Little Raj. Penonton baru akan mengetahui pekerjaan Dr. Schultz sebagai Bounty Hunter (Pemburu bayaran) setelah menlihat kehebatan Dr. Schultz membunuh buronan berhadiah, seorang deputi. Penonton juga baru mengetahui apakah protagonist atau antagonis Dr. Schultz ini yang diperankan Christoph Waltz, mengingat film hebat lainnya Inglourious Basterds (2009), mengambil Christoph Waltz berperan antagonis sebagai Hans Landa.

       Petualangan yang sebenarnya terjadi usai urusan Brittle selesai, di Tennessee. Dr. Schultz terpana ketika ia mengetahui Django memiliki istri bernama Jerman, Broomhilda (Kerry Washington). Budak perempuan yang dibesarkan di keluarga Jerman dan bisa berbahasa Jerman. Django berjanji setelah urusan dengan Dr. Schultz soal Brittle selesai, ia akan ke Greenvile, Mississippi, menyelamatkan istrinya Broomhilda dari perbudakan. Bukan hanya terpana karena heran Django ternyata memiliki istri, ia juga terpana karena istri Django bernama Broomhilda, seperti nama legenda Nordik/Jermanik Brynhildr yang ditawan dan diselamatkan Siegfried. Dari situ Dr. King mau membantu Django menyelamatkan istrinya, karena ia merasa mendapatkan kehormatan sebagai orang Jerman bertemu Siegfried dalam kehidupan nyata, menyelamatkan Broomhilda. Setelah terlebih dahulu mereka berhubungan partner menguntungkan sebagai Bounty Hunter sampai salju mencair.
           
        Sudah menjadi ciri khas dalam setiap film Tarantino, selalu penuh adegan berdarah yang estestik dan mengekspose kebrutalan pembunuhan dengan penuh unsur satir, musiknya pun rileks, dari lagu-lagu tahun 1960-80an.  Seperti yang terlihat juga di film Tarantino lainnya di Reservoir Dogs (1992), Pulp Fiction (1994), Kill Bill Vol. 1 (2003), Kill Bill Vol. 2 (2004), Inglourious Basterds (2009), The Hateful Eight (2015) dan lain-lainnya. Film Tarantino yang ini sama seperti film lainnya, merupakan  film beraliran black comedy dan neo-noir. Dari awal film tanpa melihat poster, kita pasti langsung tahu, ini adalah film Tarantino karena kekhasannya ini. Walaupun ia kerap dikritik karena penggunaan kata rasial dalam setiap filmnya, seperti kata rasial “N” word. Namun Samuel L. Jackson yang sering bermain dalam filmnya, dan juga Denzel Washington membelanya, mereka menyebut Tarantino adalah seniman yang baik. Selain menyutradarai, ia sering tampil menjadi aktor pendukung/cameo di setiap filmnya. Sama seperti Stan Lee muncul di setiap film Marvel-nya.

       Kehebatan Tarantino melegenda dalam mengarahkan film ini juga terlihat dari salah satu scene film ini dimana ketika Calvin Candie seorang Francophile (bergaya Prancis) diperankan Leonardo DiCaprio usai diberitahu oleh salah satu pelayannya Stephen (Samuel L. Jackson) menjelaskan ada niat terselubung dari kedatangan Dr. Schultz dan Django ke Big House-nya. Bahwa mereka berdua tidak ingin benar-benar membeli Mandingo (Budak yang dijadikan petarung, dan dijadikan tontonan para borjuis tuan tanah), mereka hanya ingin membeli dan membebaskan Broomhilda istri Django. Merasa diperdaya Monsieur (panggilan tuan dalam bahasa Prancis) Candie sangat berang. Ia marah sambil sedikit mengintimidasi dengan ceritanya soal Ben, yang sudah menjadi tengkorak kepala. Ben dulu adalah budak turun menurun keluarga Candie, Candie menjelaskan soal teori dalam ilmu Frenologi (Analisis kepribadian berdasarkan bentuk kepala), sambil menggergaji tengkorak kepala Ben, ia menunjukkan ada area 3 lubang yang berhubungan dengan kepatuhan sebagai budak (Servility), karena Ben orang Afrika ras kulit hitam, Monsieur Candie hanya ingin menunjukkan dan merendahkan Django yang merupakan ras kulit hitam, dan seharusnya patuh menjadi budak, ia yakin tengkorak Django juga memiliki 3 lubang yang berhubungan dengan kepatuhan itu.

     Sambil marah dan menggebrak meja Candie atau Leo ini tak tahu meja yang digebraknya ada gelas. Dan tentu saja darah keluar dari tangannya terluka oleh pecahan gelasan, banyak yang menyebut adegan ini adegan paling totalitas yang pernah diperankan Leo (sebelum keluar film The Revenant - 2015), karena setelah terluka tangannya dan mengeluarkan banyak darah, nampaknya Leo tetap lanjut memperankan tokoh yang dimainkannya. Ini tak lain andil Tarantino pula yang tidak men-cut adegan untuk menyembuhkan tangan Leo. Roll film tetap berputar, Acting tetap berjalan, improvisasi akting Leo pun mengalir begitu saja. Adegan epic yang pantas dikenang dalam industri film.

Nilai : Outstanding


Sabtu, 07 April 2018

A Quiet Place (2018) - Sssssttt!



Mungkin kita harus berterimakasih pada Anne Hathaway. Lho kenapa? Anne Hathway tidak terlibat sama sekali dalam proyek film A Quiet Place (2018) tidak jadi aktor, penulis naskah, atau bahkan kru film sekalipun. Yup, tidak salah, karena berkat Anne Hathway, John Krasinski dan Emily Blunt dicomblangi lantas kemudian menikah (cerita pribadi ini dibenarkan dalam artikel di IMDb). Dari sanalah kedua pasangan yang dipertemukan itu menciptakan film yang benar-benar brilliant. Film horor yang fantastik mencengangkan.

John Kransinksi dibantu Bryan Woods dan Scott Beck menulis naskah film. Ia juga yang memproduseri, menyutradarai, dan mengambil peran sebagai aktor. Bersama istri (sebenarnya) Emily Blunt atau biasa disapa Em. Mereka beradu akting menjadi sepasang suami dan istri, yang memiliki 3 orang anak hidup di dunia paska kekacauan invansi makhluk buta yang aneh dan peka pada secuil suara sekecil apapun itu. Makhluk itu akan memburu dan menerkammu kalau kau membuat suara yang gaduh. Ya setidaknya begitulah plot garis besar film yang tayang perdana awal April 2018 di Indonesia. Sesuai jargonnya "If they hear you, they hunt you". Jika mereka mendengarmu, mereka akan memburumu. Film yang merusak saraf, alias bikin "jantungan" Literally, seperti yang diungkapkan kritikus film Brian Tallerico. 

        Awal cerita film, diterangkan bahwa mereka di hari ke-89. Tidak dijelaskan kenapa sampai dunia menjadi seperti itu. Latar waktu sekitar tahun 2020-an. Tempat? Sepertinya Amerika. Sekeluarga Ayah, Ibu (seperti yang tadi disebutkan diperankan oleh Krasinksi dan Em) dan 3 orang Anak, yang satu anak perempuan penyandang tuna rungu (diperankan Millicent Simmons), dan 2 anak lelaki lainnya (diperankan Noah Jupe dan Cade Woodward). Mereka berlima mengendap-ngendap di minimarket mengambil kebutuhannya, sambil berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Kita sebagai penonton dipastikan penuh dengan tanda tanya dikepala, ada apa? Kenapa mereka diam-diam tidak mengeluarkan suara? Kenapa ada pengumuman banyak orang hilang di mading pinggir kota?. Pertanyaan-pertanyaan itu semua terjawab tepat ketika salah satu dari ketiga anak itu "apes" disambar oleh makhluk yang belum jelas bentuknya namun sangat cepat menerkam anak dari keluarga itu. Kecerobohannya hanya satu, anak itu membunyikan mainan pesawat yang diambilnya dari toko, padahal sudah dilarang oleh ayahnya. Ya, namanya juga anak kecil. Sampai disitu kita berkonklusi, betapa bahayanya bersuara. Disanalah penonton diajak sangat berhati-hati pada suara, termasuk bersuara dalam bioskop, karena itu tentu akan mengganggu penonton lain, tentu saja, hahaha.

Menonton film ini mengingatkan kita pada sejenis film seperti Alien (1986), Jurassic Park (1993) dan yang terbaru Don't Breathe (2016). Ketiga contoh film yang memiliki pola dan corak yang sama. Sama-sama memberikan suasana agar penonton diajak menahan nafas merasakan sensasi "jangan bersuara sekecil apapun". Jelas film ini memberikan ketidaknyamanan penonton yang penakut. Tak heran dipertengahan film di bioskop, banyak penonton yang keluar gak tahan merasakan kengeriannya, apalagi bagi mereka yang "jantungan". Disitulah kecerdasan Krasinski, ia masih paham betul, pola plot cerita seperti itu masih digemari penonton kebanyakan. Ditengah banyaknya film horor makhluk astral yang lebih mengandalkan bentuk hantu se-creepy mungkin dan mengagetkan karena muncul dadakan seperti tahu bulat.

Bagian scene yang cerdas lagi diantaranya, ketika ibu (Em), tak sengaja menyangkutkan karung berisi baju ke paku di anak tangga ke basement, membuat pakunya menganga, terekspos tajam, siap diinjak siapapun. Disini kita benar-benar dibuat khawatir, sambil mengumpat "Duh, awas hati-hati, mampus deh yang nginjak. Aduh teriak-teriak deh yang nginjek" somethin’ like that. Dan benar saja di adegan lain, paku itu memakan korban. Disana penonton dibuat tegang setengah mati. Adegan yang istilah tepatnya mungkin "Menyimpan ketegangan buat nanti".  Dengan merangkul komposer film dan konduktor Marco Beltrami, jelas film ini "bersuara" benar-benar bikin gila. Selaras dengan pengambilan gambar oleh sinematogafer asal Denmark, Charlotte Bruus Christensen dengan baik. 

Overall. Film ini sangat layak ditonton bersama teman, pacar, dan keluarga bagi yang merasa suka memacu adrenalin. Tapi tentu harus ingat, film ini untuk yang berumur remaja keatas. IMDb memberi rating tinggi (8,3 yang terakhir) bisa meningkat lagi mungkin, dan sepertinya berpotensi menggeser posisi film-film di 200 film terbaik versi IMDb.

Nilai : Great



Jumat, 23 Maret 2018

Parameter Penilaian Film Telaga Sineas

Hasil gambar untuk critique

Ada beberapa parameter penilaian untuk sebuah film, yang kelak akan menentukan apakah film itu dikatakan bagus atau tidak. Walaupun penilaian itu bersifat subjektif, namun hasil penilaian itu akan menjadi acuan rekomendasi untuk yang membutuhkannya. Ajang bergengsi dunia penilai film dan pemberi penghargaan salah satunya dipersembahkan oleh AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and Sciences) yaitu  Academy Award atau kita mengenalnya Piala Oscar ini juga memiliki parameter dalam menentukan film apa yang terbaik dan mendapatkan penghargaan Best Picture, yaitu dengan Teknik Preferential Ballot. Berbeda dengan teknik voting, teknik ini membutuhkan hak suara sekitar 6000 member AMPAS, untuk mendapatkan 50% lebih hak suara. Setiap member nanti akan diberi kertas untuk menentukan sesuai dengan pilihan menuliskan judul film yang jadi preferensi utama, sampai preferensi terakhir (misalnya di penyelenggaraan 2017, berarti juri membuat urutan 1 hingga 9).

Lalu selain dari ajang Academy Awards yang ada di dunia nyata, tak pelak ada pula dari dunia maya pemberi rating film. Seperti IMDb (Internet movie database), Rotten Tomatoes, Metacritic, Fandango, Telaga Sineas, dan masih banyak lagi. Telaga Sineas apa sih? Baru denger haha. Dari beberapa lembaga dunia nyata maupun maya perating, pengkritik, pe-review, dan penilai film itu, tentu punya caranya masing-masing dalam menentukan “The Best Movie”. Tentu saja Blog ini juga memiliki parameter, apa-apa saja yang dinilai untuk mengetahui kualitas dari film yang akan direview dan dikritik, berikut selengkapnya :

1.      Screenplay dan Plot Cerita
Sebelum menonton film, tentu kita ingin tahu seperti apa ceritanya dari membaca synopsis atau ringkasan ceritanya terlebih dahulu. Synopsis ini yang biasanya jadi teaser, agar kita tertarik menontonnya. Nah, Synopsis yang kita baca ini sebenarnya adalah penggalan dari skenario atau screenplay yang dibuat screenwriter. Skenario ini yang sederhananya membangun film menjadi hidup dengan penggambaran suasana, dialog dan sebagainya-sebagainya terlihat di layar. Banyak yang kemudian bertanya, lantas apa film yang diadaptasi perlu skenario? Tentu saja, contoh film “The Lord of the Ring : The Fellowship of the Ring” yang diadaptasi dari buku karangan J.R.R Tolkien dengan judul serupa, penulisan skenario film tersebut digarap oleh salah satunya Peter Jackson yang sekaligus jadi Sutradara, kebanyakan penulis skenario yang baik ia menjadi sutradaranya. Ini beberapa screenwriter atau penulis skenario hebat : Billy Wilder, Quentin Tarantino, Francis F. Coppola, William Goldman, Charlie Kaufmann, Woody Allen, dll.

2.      Dialog yang Terbangun
Ada relevansi dengan point nomor 1, point ke-2 ini lebih dihidupkan oleh pemerannya, aktornya. Tanpa aktor yang tepat dan canggih, skenario film akan hanya menjadi pepesan kosong kata-kata semata. Tanpa disadari, aktor kadang melakukan improvisasi dalam setiap scene yang seharusnya sudah tertera dalam benang merah skenario. Hal itu dilakukan biasa karena aktor ingin lebih menghidupkan suasana cerita.

3.      Aktor, Akting, dan Karakter yang Dimainkan
“Akting yang baik adalah ketika tidak berakting”, adagium yang sering dilontarkan disela-sela dunia akting. Itu maksudnya, akting yang baik itu ketika aktornya terlihat natural, seperti menjalani rutinitasnya sehari-hari, ia menganggap kamera dan penonton (kalau dalam sebuah panggung drama) tidak ada. Itu pula yang menjadi dasar penilaian film di blog ini. Tanpa mengetahui siapa aktor dalam sebuah film kita tidak akan mendiskreditkan kemampuan aktor debutan. Aktor kawakan yang sudah senior pun tidak menutup kemungkinan ia berakting kurang baik, maka point ini menegaskan, bukan tentang siapa aktornya, tapi tentang bagaimana performa aktingnya.

4.      Sutradara
Sutradara atau dalam bahasa Inggrisnya Director, orang yang mendireksi, mengarahkan menjadi dirigen “simfoni” film itu memiliki jiwa. Ia yang bertanggungjawab selama proses kreasi film, baik dari hal teknis maupun interpretatif. Kru film dari bagian kamera, sound, cahaya, kostum, penata rias, dll dibawah kontrol sutradara. Maka kesuksesan film tergantung arahan bagaimana Sutradara itu bekerja.

5.      Audio, Musik
Pembaca pasti pernah dibawa larut oleh suasana dalam film baik itu suasana ceria, sedih, takut-mendebarkan, bahkan feeling awesome. Ya itulah kekuatan musik dalam sebuah film. Selain itu juga sound effect yang ada pada film seperti suara jejak langkah seseorang, suara gemericik cipratan air, adu pedang, bahkan suara gesekan kain baju beradu ada pekerja pembuat suaranya, agar suara mendetail dalam film itu terdengar jelas dan memberikan efek suasana tertentu pastinya.

6.      Cinematography, Visual, Teknik Gambar, Spesial Efek Make Up dan Kostum
Seperti dalam kategori penghargaan Academy Awards, dalam blog ini juga menggunakan ukuran Cinematogrpahy atau bentuk seni unik untuk film, dimana ekspos gambar dengan pencahayaan yang baik serta penampilan estetika dari setiap angle kamera menyorot sebuah adegan, serta bagaimana pemilihan kostum dan special efek lainnya, menjadi tolak-ukur pasti menilai film tersebut baik atau tidak.

7.      Tujuan film, Pesan Moral yang mau Disampaikan
Last but not least, tentu tujuan dan nilai yang dikandung dalam film tersebut, genre film tertentu pasti mempengaruhi keseluruhan ide dan nilai apa yang akan disampaikan, dan tentu ada pesan moral yang bisa dipertik oleh penonton agar memberi kesan tersendiri.

            Itulah 7 parameter penilaian blog Telaga Sineas me-review dan mengkritik film yang akan dipilih nantinya. Pemilihan film yang masuk dalam radar Telaga Sineas pun tentu sudah melalui pemilihan yang matang. Kita berharap pembaca nanti mendapatkan manfaat dari tulisan kita tentang film, mungkin rujukan, rekomendasi, ataupun menyatakan pendapat mengkritik kritikan film hehe. Maka sekian, tunggu tulisan kita berikutnya sampai pada konten review dan kritikan film yang intisari dari blog ini.

Rabu, 21 Maret 2018

Prolog : Membaca Film




Pada tulisan kali ini kita akan membahas, kenapa memilih membicarakan film? Kenapa menonton film? Beberapa menjawab, karena kita generasi visual, bukan lagi menelaah dengan membaca kata demi kata demi memuaskan keingintahuan kita tentang dunia. “Jendela Dunia” tergantikan dengan semangat pengalaman sekaligus pengetahuan yang disajikan dengan menyaksikan film, apapun itu judul dan genrenya, Yup, termasuk Bokep. Skip. haha

Jadi apakah benar film menggantikan peran “Jendela Dunia”. Padahal keduanya sama-sama anak kandung seni dan kebudayaan. Banyak pula film yang diadaptasi dari buku. Oleh sebab itu daripada kita mengadu-debatkan film dan buku, terlebih pendapat diatas belum tentu tepat dan ada landasannya. Ada baiknya kita telisik sejarahnya terlebih dahulu karena ternyata ada kaitannya bagaimana buku dan film nyatanya bersinerji membangun peradaban. Dan tentu akan dibahas pula bagaimana bisa manusia dalam peradabannya menjadikan film sebagai media ilmu pengetahuan. Film ilmu pengetahuan bukan saja genre film documenter ya.

Film secara bahasa adalah lakon hidup atau gambar gerak, mungkin inilah mengapa film dalam bahasa Inggris dikatakan movie, dari kata move (gerak)lalu menjadi movee, dan movie. Hahaha hanya asumsi. Film dapat diabadikan lewat seluloid yang digunakan untuk menyimpan gambar negative dari sebuah objek, dan juga bisa disimpan dan diputar kembali melalui media digital.

Sejarah dulu, sebelum ada kamera video seperti sekarang, ada seorang pemuda bernama Eadweard Muybridge, yang penasaran ”Apakah keempat kaki kuda berada pada posisi melayang pada saat bersamaan ketika kuda berlari?". Lalu dia iseng-iseng coba memfoto kuda yang berlari dan jadilah 16 frame gambar. 16 frame itu lantas disusun, menjadi rangkaian gerakan secara urut. Jadilah kuda itu bergerak dan berada pada satu momen kaki itu melayang tidak menyentuh tanah (film Muybridge ini kemudian disebut-sebut kelak sebagai film pertama di dunia). Teknik penyusunan frame tersebut kita kenal dengan teknik membuat film kartun yang selama ini kita tonton.

Pasca penemuan gambar bergerak Muybridge berhasil. Perkembangan film yang sebenarnya dimulai ketika digunakannya alat Kinetoskop temuan Thomas Alfa Edison yang pada masa itu digunakan oleh penonton individual. Film yang dihasilkan awalnya masih bisu dan tidak berwarna. Dan sejak itu dimulailah era baru sinematografi.

Begitu sejarah singkat tentang film. Yang sebenarnya kita sendiri bisa selancar-ria diinternet untuk mencari tahu sendiri dan memuaskan rasa penasaran kita. Karena penulis sendiri sesungguhnya hanya copy paste terkait penjabaran singkat sejarah diatas. Haha. Oh iya, lalu bagaimana dengan buku? Ya, sejarah buku pun bisa kalian cari sendiri bagaimana perkembangannya di internet,serta korelasinya dengan film. Hmm.

Maka pada pointnya, sebenarnya dalam tulisan yang diberi judul “Prolog” ini, saya selaku penulis dan kelak akan intens setia mengelola blog ini, tidak akan membahas panjang lebar bagaiamana sejarah film, apalagi korelasinya dengan buku. Namun akan fokus menjawab pertanyaan, “kenapa memilih membicarakan film?”. Agar bisa mengikuti setiap postingan review film dalam blog ini, begitulah kira-kira jawabannya. Akhir kata, Salam kenal.