
Ada
beberapa parameter penilaian untuk sebuah film, yang kelak akan menentukan
apakah film itu dikatakan bagus atau tidak. Walaupun penilaian itu bersifat
subjektif, namun hasil penilaian itu akan menjadi acuan rekomendasi untuk yang
membutuhkannya. Ajang bergengsi dunia penilai film dan pemberi penghargaan
salah satunya dipersembahkan oleh AMPAS (Academy of Motion Picture Arts and
Sciences) yaitu Academy Award atau kita
mengenalnya Piala Oscar ini juga memiliki parameter dalam menentukan film apa
yang terbaik dan mendapatkan penghargaan Best
Picture, yaitu dengan Teknik Preferential
Ballot. Berbeda dengan teknik voting, teknik ini membutuhkan hak suara
sekitar 6000 member AMPAS, untuk mendapatkan 50% lebih hak suara. Setiap member
nanti akan diberi kertas untuk menentukan sesuai dengan pilihan menuliskan judul film yang jadi
preferensi utama, sampai preferensi terakhir (misalnya di penyelenggaraan 2017,
berarti juri membuat urutan 1 hingga 9).
Lalu selain dari ajang Academy Awards
yang ada di dunia nyata, tak pelak ada pula dari dunia maya pemberi rating
film. Seperti IMDb (Internet movie database), Rotten Tomatoes, Metacritic,
Fandango, Telaga Sineas, dan masih banyak lagi. Telaga Sineas apa sih? Baru denger haha. Dari beberapa lembaga
dunia nyata maupun maya perating, pengkritik, pe-review, dan penilai film itu, tentu punya caranya masing-masing
dalam menentukan “The Best Movie”.
Tentu saja Blog ini juga memiliki parameter, apa-apa saja yang dinilai untuk
mengetahui kualitas dari film yang akan direview dan dikritik, berikut
selengkapnya :
1.
Screenplay
dan Plot Cerita
Sebelum menonton film, tentu kita ingin
tahu seperti apa ceritanya dari membaca synopsis
atau ringkasan ceritanya terlebih dahulu. Synopsis ini yang biasanya jadi teaser,
agar kita tertarik menontonnya. Nah, Synopsis
yang kita baca ini sebenarnya adalah penggalan dari skenario atau screenplay yang dibuat screenwriter. Skenario ini yang
sederhananya membangun film menjadi hidup dengan penggambaran suasana, dialog
dan sebagainya-sebagainya terlihat di layar. Banyak yang kemudian bertanya,
lantas apa film yang diadaptasi perlu skenario? Tentu saja, contoh film “The Lord of the Ring : The Fellowship of the
Ring” yang diadaptasi dari buku karangan J.R.R Tolkien dengan judul serupa,
penulisan skenario film tersebut digarap oleh salah satunya Peter Jackson yang
sekaligus jadi Sutradara, kebanyakan penulis skenario yang baik ia menjadi
sutradaranya. Ini beberapa screenwriter atau
penulis skenario hebat : Billy Wilder, Quentin Tarantino, Francis F. Coppola,
William Goldman, Charlie Kaufmann, Woody Allen, dll.
2.
Dialog yang Terbangun
Ada relevansi dengan point nomor 1, point
ke-2 ini lebih dihidupkan oleh pemerannya, aktornya. Tanpa aktor yang tepat dan
canggih, skenario film akan hanya menjadi pepesan kosong kata-kata semata.
Tanpa disadari, aktor kadang melakukan improvisasi dalam setiap scene yang seharusnya sudah tertera
dalam benang merah skenario. Hal itu dilakukan biasa karena aktor ingin lebih
menghidupkan suasana cerita.
3.
Aktor, Akting, dan Karakter yang Dimainkan
“Akting yang baik adalah ketika tidak
berakting”, adagium yang sering dilontarkan disela-sela dunia akting. Itu
maksudnya, akting yang baik itu ketika aktornya terlihat natural, seperti
menjalani rutinitasnya sehari-hari, ia menganggap kamera dan penonton (kalau
dalam sebuah panggung drama) tidak ada. Itu pula yang menjadi dasar penilaian
film di blog ini. Tanpa mengetahui siapa aktor dalam sebuah film kita tidak
akan mendiskreditkan kemampuan aktor debutan. Aktor kawakan yang sudah senior
pun tidak menutup kemungkinan ia berakting kurang baik, maka point ini
menegaskan, bukan tentang siapa aktornya, tapi tentang bagaimana performa
aktingnya.
4.
Sutradara
Sutradara atau dalam bahasa Inggrisnya Director, orang yang mendireksi,
mengarahkan menjadi dirigen “simfoni” film itu memiliki jiwa. Ia yang
bertanggungjawab selama proses kreasi film, baik dari hal teknis maupun
interpretatif. Kru film dari bagian kamera, sound,
cahaya, kostum, penata rias, dll dibawah kontrol sutradara. Maka kesuksesan
film tergantung arahan bagaimana Sutradara itu bekerja.
5.
Audio, Musik
Pembaca pasti pernah dibawa larut oleh
suasana dalam film baik itu suasana ceria, sedih, takut-mendebarkan, bahkan feeling awesome. Ya itulah kekuatan musik
dalam sebuah film. Selain itu juga sound
effect yang ada pada film seperti suara jejak langkah seseorang, suara gemericik
cipratan air, adu pedang, bahkan suara gesekan kain baju beradu ada pekerja
pembuat suaranya, agar suara mendetail dalam film itu terdengar jelas dan
memberikan efek suasana tertentu pastinya.
6.
Cinematography, Visual, Teknik Gambar,
Spesial Efek Make Up dan Kostum
Seperti dalam kategori penghargaan
Academy Awards, dalam blog ini juga menggunakan ukuran Cinematogrpahy atau bentuk seni unik untuk film, dimana ekspos
gambar dengan pencahayaan yang baik serta penampilan estetika dari setiap angle kamera menyorot sebuah adegan, serta
bagaimana pemilihan kostum dan special efek lainnya, menjadi tolak-ukur pasti
menilai film tersebut baik atau tidak.
7.
Tujuan film, Pesan Moral yang mau Disampaikan
Last but not least, tentu tujuan dan nilai yang dikandung dalam film tersebut,
genre film tertentu pasti mempengaruhi keseluruhan ide dan nilai apa yang akan
disampaikan, dan tentu ada pesan moral yang bisa dipertik oleh penonton agar
memberi kesan tersendiri.
Itulah
7 parameter penilaian blog Telaga Sineas me-review
dan mengkritik film yang akan dipilih nantinya. Pemilihan film yang masuk
dalam radar Telaga Sineas pun tentu sudah melalui pemilihan yang matang. Kita berharap
pembaca nanti mendapatkan manfaat dari tulisan kita tentang film, mungkin
rujukan, rekomendasi, ataupun menyatakan pendapat mengkritik kritikan film hehe. Maka sekian, tunggu tulisan kita
berikutnya sampai pada konten review dan
kritikan film yang intisari dari blog ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar